- Home
- Blog
- Suami Perlu Belajar Mendengar Curhatan Istri, Niscaya Keluarga Akan Makin Harmonis
Suami Perlu Belajar Mendengar Curhatan Istri, Niscaya Keluarga Akan Makin Harmonis
Perempuan perlu curhat. Salah satu perbedaan laki-laki dan perempuan adalah dalam hal sikap saat menghadapi permasalahan.
Apabila lelaki mendapatkan permasalahan dalam kehidupannya, salah satu cara untuk berdamai dengan masalah adalah bersikap diam. Maka tak jarang laki-laki tampak diam dan murung, karena tengah menghadapi permasalahan berat.
Berbeda dengan perempuan, apabila mereka mendapatkan permasalahan yang berat, cara untuk meringankan beban masalah adalah dengan jalan menceritakan masalah itu kepada orang lain.
Diam bagi kebanyakan laki-laki adalah bagian dari siklus, yang disebut sebagai siklus diam. Dengan diam ini, kebanyakan laki-laki merasa lebih tenang dan berusaha untuk mencari solusi sendiri. Apalagi jika permasalahan menyangkut keluarga, rata-rata laki-laki memilih menutup diri dan tidak suka sharing dengan orang lain. Jarang laki-laki curhat dan menceritakan persoalan kehidupan keluarganya kepada konselor.
Namun bagi kebanyakan perempuan, apabila mengalami masalah yang berat, ia akan merasa ringan apabila sudah menceritakan masalah tersebut kepada orang lain. Baru bercerita saja, ia merasa sudah lega. Apalagi jika ada respon positif dan konstruktif dari teman curhat yang menyebabkannya bisa merasa lebih nyaman dan tenang.
Perhatikan acara Mamah Dedeh yang menggelar acara curhat secara terbuka di televisi mendapatkan respon yang sangat antusias dari kalangan ibu-ibu. Kebanyakan perempuan memerlukan curhat sebagai media penenang jiwanya. Tindakan ini bisa dikategorikan sebagai emotional focus coping, yaitu penyelesaian masalah dengan focus kepada penyaluran emosi.
Adalah tindakan yang tidak efektif apabila suami menekan isteri dengan berbagai ancaman. Misalnya kalimat ancaman seperti ini : “Awas kalau kamu cerita masalah kita ke guru mengajimu”. “Awas kalau kamu berani cerita masalah kita ke teman kantormu”. Ancaman seperti itu tidak akan efektif, justru semakin menambah fakta bahwa kaum perempuan memerlukan curhat ke orang lain yang bukan suaminya.
Curhat adalah sebentuk penyaluran emosi atau perasaan, yang menyebabkan kaum perempuan merasakan nyaman dan tenang. Ketika mendapatkan ancaman dan gertakan dari suami untuk tidak bercerita kepada siapapun, kenyatannya justru menjadi alasan yang lebih kuat bagi isteri untuk mencari tempat curhat.
Percayalah, ancaman anda kepada isteri agar tidak cerita-cerita tidak akan pernah efektif. Tidak akan mempan. Tidak akan! Dengarkan Curhat Isteri Satu-satunya cara bagi anda untuk membuat isteri anda tidak menceritakan masalah kepada orang lain adalah dengan jalan mendengarkan curhatnya.
Jadikan diri anda sebagai tempat curhat pertama kali. Jika anda bisa mendengarkan dengan baik, serta merespon secara empati, maka semua beban perasaan isteri sudah akan selesai di rumah. Yakinlah, ia tidak akan bercerita kepada siapapun, karena merasa semua sudah selesai di rumah. Oleh karena itu salah satu kemampuan yang perlu dimiliki suami adalah kemampuan mendengarkan.
Banyak suami tidak mau mendengarkan keluhan isteri. Banyak isteri tidak nyaman untuk berbicara kepada suami karena tidak yakin bahwa pembicaraannya didengarkan. Karena di rumah keluhannya tidak tertampung, maka isteri memilih mencari tempat curhat di luar rumah.
Selain kemampuan mendengarkan, yang harus dimiliki oleh para suami adalah kemampuan untuk merespon secara empati keluhan dan cerita isteri. Mendengar saja tidak cukup, karena isteri membutuhkan kepastian bahwa sang suami mengerti apa yang disampaikan.
Maka suami harus mampu merespon secara empati semua cerita sang isteri. Respon empati ini tidak mesti dalam bentuk solusi, namun lebih kepada ungkapan yang menunjukkan keberpihakan kepada sang isteri.
Percakapan Bantal Di tengah kesibukan anda, sempatkan waktu untuk mendengarkan cerita isteri. Tentang apa saja, jangan dibatasi. Dengarkan cerita isteri, dan berikan respon empati. Jika anda sangat sangat sangat sibuk sehingga waktu anda sangat terbatas, tetaplah melakukan obrolan dengan isteri, dengan metoda “percakapan bantal”.
Yang dimaksudkan dengan percakapan bantal adalah, anda dan isteri menyempatkan mengobrol di tempat tidur. Biarkan isteri anda bercerita panjang lebar tentang semua hal yang ingin disampaikannya. Jangan dibatasi pada tema tertentu, karena itu akan membuat isteri tidak nyaman.
Anda menunda tidur anda barang satu jam, dalam rangka mendengarkan omongan isteri anda. Sembari berbaring berdua di tempat tidur, anda menikmati obrolan isteri. Syaratnya satu, jangan tertidur ! Benar-benar dengarkan pembicaraan isteri, dan berikan respon empati. Jika sudah cukup, ajak isteri anda tidur, atau ajak untuk melakukan aktivitas yang lain sebelum tidur. Tapi jangan pernah mendahuluinya tidur sementara isteri anda masih asyik berbicara.
Dengan cara itu, isteri anda akan merasa selalu nyaman dan aman berada di samping anda, karena selalu bisa menampung curhatnya. Yakinlah, ia akan menjadi isteri yang membuat anda bahagia selama-lamanya.
Hidup boleh keras, tapi selama ada seseorang yang mau mendengar keluh kesah kita, maka semuanya terasa baik adanya.
Kalau harus jujur, porsi bicara istri biasanya lebih banyak dari suami. Namanya juga perempuan, wajar kalau suka bicara atau cerewet. Sudah seperti takdir, ya. Hehe. Makanya, sebab istri lebih banyak bicara, bagusnya sih suami suka mendengar. Sebab suami yang mau mendengar itu bisa memahami istri lebih baik dari yang tak suka mendengar. Serius lho.
Tidak semua orang suka mendengarkan. Bahkan, ada orang yang maunya bicara terus. Ya, mau mendengar itu sebuah kemampuan yang tidak dimiliki semua orang. Mendengar menjadikan hubungan lebih harmonis dan erat. Banyak konflik rumah tangga bermula dari hal sepele, yaitu saat kedua pasangan maunya bicara terus, tapi tidak ada yang mau mendengar.
Mau mendengar curhatan istri itu sangat penting. Istri juga harus mau lho mendengarkan cerita suami. Cuma karena suami lebih pendiam dari istri yang cerewet, maka suami memang sebaiknya belajar mendengar lebih banyak curhatan istri, ya.
Sebab banyak sekali kelebihan yang akan dimiliki suami jika rela mendengar curhatan istri selama berjam-jam.
Mau mendengar dapat mengurangi terjadinya pertengkaran
Seperti sudah ditulis di atas, banyak pertengkaran dalam rumah tangga terjadi hanya karena kesalahan sepele, tidak ada yang mau mendengar. Suami mau ngomong terus, apalagi istri, ngotot. Dan meledaklah pertengkaran yang sia-sia.
Itu sebabnya mendengar sangat penting bagi pasangan suami istri. Belajarlah mendengar, sebab ketika tengah terjadi pertengkaran, masalah akan cepat selesai. Mau mendengar bisa memangkas waktu bertengkar dari 3 jam misalnya, menjadi hanya satu jam.
Sebab tidak akan ada banyak argumen sia-sia yang diucapkan. Suami atau istri fokus mendengarkan argumen masing-masing dan mencari solusi serta mau mengakui kesalahan jika memang salah.
Survei membuktikan, pasangan yang mau mendengar lebih harmonis ketimbang yang sama-sama suka bicara ngotot sampai berbusa-busa.
Suami baik itu suami yang mau mendengarkan
Berdasarkan sebuah survei, kebanyakan suami baik di mata istrinya adalah suami yang mau mendengarkan dengan baik. Ya, itulah penilaian para perempuan terhadap suaminya.
Jadi, menjadi suami yang baik di mata istri itu mudah. Cukup dengarkan apa yang dia katakan. Mendengarkan itu menambah kedekatan dan pemahaman terhadap pasangan. Sungguh, pasangan yang mau saling mendengarkan itu indah sekali.
Mendengarkan itu tanda cinta
Tanyakan lagi pada diri sendiri, kenapa Anda suka mendengarkan cerita pasangan? Rela duduk berjam-jam mendengarkan ceritanya sambil manggut-manggut tanpa berkata. Tentu saja, semua itu karena kasih sayang dan cinta Anda pada istri.
Maka, mendengarkan adalah tanda cinta sejati yang tak habis. Semakin mendengar malah semakin jatuh cinta seperti mata air yang selalu memberi kesegaran.
Tentu saja Anda tidak harus menyepakati semua yang ia ucapkan. Hanya saja, bukti cinta itu dengan mendengarkan baik-baik tanpa menyela atau menilainya. Kalau memang ada yang tidak baik, maka balaslah dengan baik usai istri selesai bicara.
Hanya dengan mendengarkan, Anda bisa jadi orang yang lebih baik
Ingat saat Anda masih kecil, Anda belajar makan, matematika, ngaji, dan lain sebagainya dengan cara mendengar. Mendengar pak guru, orangtua, dan ustad. Bukan begitu?
Membaca buku juga mendengar tuturan penulis dalam teks buku. Paling tidak, Anda tidak bicara melainkan menyimak orang lain. Begitu pula kini saat Anda sudah menikah.
Mendengarkan itu cara menambah ilmu dan kapasitas Anda sebagai seorang manusia. Semakin mau mendengar semakin baiklah Anda. Ada istilah bilang, bicara itu mengulangi apa yang kita tahu, tetapi mendengar itu membuat kita tahu hal baru.
Oleh karena itu, duhai para suami, belajarlah untuk mendengar curhatan para istri. Karena jika hal ini dilakukan, maka akan bermanfaat bagi hubunganmu. Berikut beberapa manfaat dari mendengar curhatan sang istri:
1. Dicintai Istri
Dengan bercerita, tentunya dapat membuat seseorang menjadi lega. Begitu pula yang dirasakan istri saat bercerita pada suami. Jika saja suami mau duduk tenang sambil memandangi wajah istri dengan seksama dan mendengar semua keluh kesah yang dirasakan, maka percayalah bahwa kamu akan semakin dicintai istri. Tidak ada perempuan yang tak suka didengarkan dengan sungguh-sungguh oleh orang yang dicintainya.
2. Menjadi Suami yang Baik
Sebuah survei mengatakan bahwa suami akan dikatakan baik di mata istrinya jika suami mau mendengarkan dengan baik. Cukup dengarkan apa yang istri katakan, maka kamu akan menambah kedekatan dan pemahaman terhadap pasangan.
3. Mengurangi Pertengkaran
Belajarlah mendengar, karena ketika suatu saat tengah terjadi pertengkaran, masalah akan menjadi cepat selesai. Mendengar dapat memangkas waktu bertengkar suatu pasangan dari tiga jam misalnya, menjadi hanya satu jam. Sebab tidak akan ada banyak argumen sia-sia yang diucapkan. Suami atau istri fokus mendengarkan argumen masing-masing dan mencari solusi serta mau mengakui kesalahan jika memang salah.
Setelah mengetahui manfaatnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat mendengar curhatan sang istri, yakni sebagai berikut:
1. Tidak Ada Interupsi
Saat ini teknologi semakin canggih dan gadget tidak bisa lepas dari tangan. Begitu pun ketika sedang bersama pasangan. kehadiran gadget ini bisa menjadi salah satu hal yang menginterupsi obrolan sehingga merusak suasana yang sudah terbangun.
2. Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh saat menjadi pendengar akan memengaruhi suasana hati istri yang sedang curhat. Ketika si pendengar menunjukkan bahasa tubuh tidak antusias, seperti duduk dengan posisi malas-malasan, maka suasana hati istri yang sedang bicara bisa berubah menjadi tidak semangat. Sahabat Ummi, pastikan ada kontak mata dengan lawan bicara agar ia merasa didengarkan.
4. Hear vs Listen
Dalam bahasa Inggris dan dunia psikologi, dua bahasa ini memiliki arti yang berbeda. Hear berarti mendengar, tetapi tidak benar-benar menyimak. Sedangkan listen berarti benar-benar menyimak. Ada juga active listener, yaitu menyimak dan memberikan bahasa tubuh yang mengesankan saat menjadi pendengar. Alangkah lebih baik jika seorang pasangan menjadi active listener sehingga lawan bicara merasa pembicaraannya benar-benar didengarkan.
Duhai para suami, demikianlah beberapa manfaat dan hal-hal yang harus diperhatikan saat menjadi pendengar sang istri. Sebuah pernikahan akan dikatakan harmonis dan berhasil ketika sang suami mau mau mendengar dan bisa memasuki dunia istrinya, begitu juga sebaliknya. Semoga Sahabat Ummi bisa menjadi pasangan suami istri yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Aamiin.